ekspedisi merapi
aqil, maxi, rama sedang bersiap untuk mengisi liburan, rencana kali ini adalah untuk mendaki puncak merapi, yang beberapa waktu lalu sempat meletus hebat yang mengakibatkan beberapa desa hancur tak bersisa.
aqil sedang bersiap mengepak barang-barangnya dalam sebuah tas besar, maxi mengecek apakah semua barang - barang yang akan mereka bawa sudah masuk kedalam tas, sedang rama asik mmpersiapkan cameranya.
pagi itu mereka akan mendaki melalui desa selo, yang memang biasa dilalui para pendaki dari utara dan timur, walau tidak seramai kinah rejo yang biasa dilalui dari selatan.
mereka berjalan bertiga melalui jalan setapak, sambil melihat pemandangan yang ada, batu-batu besar sisa erupsi masih tampak di kanan-kiri jalan setapak itu, pohon-pohon yang mengering mulai digantikan dengan pohon-pohon yang baru tumbuh liar dihutan merapi. siang hari mereka akhirnya sampai di ujung akhir desa selo, diatas desa ini sudah tidak akan bertemu dengan desa lagi, mereka memutuskan untuk beristirahat didesa ini, mereka istirahat di sebuah pos jaga di pinggiran desa.
mereka membuka bekal sebuah roti basah yang mereka bawa sambil berbincang-bincang
"mereka mengungsi kemana ketika erupsi ya?" tanya aqil
" ooo...jauh dibawah, mereka mengungsi sampai kantor kabupaten boyolali, ada juga yang sampai kab.klaten" jawab rama sambil mengambil gambar pemandangan petani yang sedang menggarap ladangnya.
"kenapa juga mereka tidak meminta relokasi, ini kan wilayah rawan" kata aqil lagi
"mereka sudah turun temurun disini, meminta mengungsi saat erupsi saja sulit, apalagi dalam keadaan tenang, tentu lebih sulit" jawab rama
saat mereka sedang asik mengobrol, lewat orang tua berambut panjang yang sudah mulai memutih.
"anak-anak ini mau kemana?" kata si kakek
"mau mendaki mbah" jawab aqil
"hati-hati kalau mendaki, jangan bicara sembarangan, jangan membuang kotoran sembarangan, karena mbah petruk sedang punya gawe" pesan si kakek
"mbah petruk itu siapa mbah?"tanya rama penasaran
"penjaga merapi" kata sikakek sambil lalu, kemudian hilang di kelokan jalan.
"kata penduduk sekitar merapi, kalau merapi sedang erupsi itu, artinya mbah petruk sedang punya hajat, begitu" jelas maxi
=======================================================
hari sudah sore ketika mereka memutuskan untuk mulai mendaki, matahri tinggal semburat dan mulai tertutup puncak gunung.
mereka sampai di suatu temapt yang tandus, seperti lapangan tetapi banayk batu-batu besar kecil seolah berserakan.
"qil...kamu dengar suara-suara itu" kata maxi dengan muka pucat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar