Sabuk Merapi
Lihatlah kawan gunung merapi yang berdiri tegak di tengah pulau jawa itu, walaupun sering memuntahkan lahar panas yang mnegambil ratusan nyawa, tapi kamu tetap menganggapnya sebagai pelindung kehidupan kami, karena tanpa adanya merapi bukan cuma ratusan nyawa akan hilang, tetapi riuan nyawa yang akan melayang, karena tidak akan ada tanah yang subur yang bisa ditanami.
gunung itu dulu begitu hijau, mengirimkan embun yang sejuk disetiap paginya, sehingga bajuku sekolah yang tipis kerap kali basah ketika berangkat dipagi hari, kabut pagi beserta angin dingin membuat kami yang tinggal di lereng merapi mempunyai ritual tersendiri, mengelilingi api unggun dipagi hari. yang disebut dengan "gegeni".
hutan merapi masih sangat lebat waktu itu, kancil, kelinci, ayam hutan, banyak berkeliaraan, tapi jangan mengejar mereka terlalu kedalam karena mungkin kamu akan berebut mereka dengan harimau loreng, atau ajak atau macan tutul.
bermain dihutan merapi adalah kesenangan tersendiri, disana kami bebas memakan buah apa saja, tanpa takut dimarahi pemilik pohon, memakan buah jambu sepenuh perut kami, tidak perlu seperti unyil yang takut dimarahi pak raden. hutan merapi selalu menjadi rumah kami, anak-anak asap merapi.
baca selengkapnya....
Langganan:
Komentar (Atom)