multimedia SMK

nasib guru tidak tetap

Dalam era dimana pendidikan dianggap sebagai suatu kebutuhan, maka tenaga pendidik menjadi sangat penting, karena guru merupakan motor utama pendidikan. Di Indonesia, guru yang menangajar di sekolah terbagi menjadi dua(2), yaitu guru PNS(Pegawai negeri sipil) dan guru GTT (Guru tidak tetap).Dua kasta guru ini memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama, tetapi memiliki pendapatan yang berbeda. ketika pemerintah menaikkan gaji guru PNS, Guru GTT tetap tidak berubah nasibnya. Hal yang paling aneh adalah, pada era sekarang, para GTT ini adalah Guru Harian Lepas (seperti istilah pekerja bangunan), yang mengajar berdasarkan Surat Keputusan (SK) dari Kepala Sekolah. Hal ini akan menjadi masalah ketika GTT ini mengajar di sekolah negeri. karena syarat guru mendapat sertifikasi untuk GTT adalah dengan memiliki SK Bupati, sehingga para GTT ini tidak akan bisa mendapatkan sertifikasi, karena tidak memiliki SK Bupati yang juga berarti tidak diakui pemerintah, tetapi yang aneh, di pendataan kebutuhan guru kabupaten, para GTT ini masuk data sebagai guru di kabupaten, jadi ketika masalah sertifikasi (kesejahteraan) tidak diakui, tetapi saat data kebutuhan guru diakui, yang mengakibatkan tidak dibukanya pendaftaran CPNS untuk guru. Maka seharusnya pemerintah tidak menerapkan setandar ganda dala masalah GTT ini. baca selengkapnya....

demi kemakmuran rakyat, rakyat yang mana?

Negeri ini terkenal sejak dahulu sebagai negeri yang tanahnya subur, sampai group band koes plus bilang tongkat kayu dan batu pun bisa jadi tanaman. Ternyata bukan hanya tanahnya saja yang subur, tertapi juga mengandung berbagai kekayaan alam lain berupa batubara, emas timah dan semen. kami yang tinggal di pegunungan kendeng bagian utara, tanah kami katanya kaya akan sumber semen. Sejak 2015 kemarin semen indonesia sudah bersiap melakukan eksplorasi di wilayah kendeng utara untuk mengambil biji semen. mereka sudah menghabiskan banyak biaya sejak itu sampai saat ini, kurang lebih katanya sampai 5 Milyard...jumlah yang sangat banyak, apalagi untuk orang desa seperti kami, yang kebanyakan hanya petani kecil saja. Puluhan atau ratusan tahun yang lalu, tanah kami kedatangan bangsa eropa, sebuah bangsa yang asing bagi kami karena kulit mereka yang putih dan tinggi badannya melebihi tinggi badan kami, mereka datang menggunakan senjata Meriam, sebuah senjata yang tentu kami tidak memilikinya, dan setelah itu mereka membuat kami menjadi kuli-kuli mereka, dan sekarang datang lagi orang-orang yang wlaupun kulitnya sama seperti kami, mereka datang membawa senjata berupa ijazah pertambangan, yang lagi-lagi kami tidak memilikinya, dan sejarah terulang lagi, mereka akan menjadikan kami kuli-kuli diatas tanah kami, kendeng utara. Kami tahu di undang-undang sudah tertulis, bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara, dan digunakan untuk kemakmuran rakyat, tapi rakyat yang mana? bukankah kami juga rakyat? baca selengkapnya....