multimedia SMK

Cerita Asap Merapi (Ki Sapu jagad)

Wisang kembali dari lading sudah agak sore, ketika matahari sudah tinggal menyisakan warna merah di barat, Merapi kelihatan seperti menyala ketika itu. anak - anak lain sudah pada mandi dan bersiap kerumah mbah sangelat, untuk mendengarkan cerita dari mbah sangelat. memang setiap malam minggu mbah sangelat mengajak anak-anak kerumahnya untuk sekedar mendengarkan mbah sangelat mendongeng.
"sang....wisang, ayo cepat, anak-anak sudah pada berangkat" teriak parto dari pinggir jalan ketika melihat wisang masih duduk di depan pintu.
"nanti dulu to, aku belum mandi, baru pulang nyari rumput, kamu duluan saja" jawab wisang.
"ya sudah, aku duluan yo" balas Parto sambal berlalu
"yo" kata wisang sambal menuju ke kamar mandi.
Setelah mandi wisang kemudian buru-buru menuju kerumah mbah sangelat, setengah berlari dijalan setapak, dia sengaja memilih jalan itu supaya lebih cepat, meski jalannya tidak sehalus jalan besar di depan pak kuwu.
dipendapa rumah mbah sangelat sudah banyak anak-anak berkumpul, tapi mbah sangelat belum berada di pendapa.
"ayo sini sang, mumpung mbah sangelat belum rawuh" kata aryo
"terima kasih yo" kata wisang sambal duduk disamping aryo.
tak lama kemudian mbah sangelat dating, beliau duduk diatas kursi goyang, sambal memperhatikan wajah anak-anak beliau mulai berkata
"hari ini saya akan melanjutkan cerita waktu purnama tempo hari, yaitu tentang Merapi"
"cerita hari ini tentang Ki Sapu Jagad"
"pada saat mataram sedang membangun kekuasaan, maka panembahan senopati disuruh bertapa oleh Ki Juru Mertani, panembahan Senopati bertapa di Nglipuro, daerah dekat Bantul.
"Apa yang kamu dapat dari pertapaanmu anakku?" tanya Ki Juru martini
"Hamba tidak mendapat apa-apa bopo." jawab Panembahan Senopati
"kalua begitu, hanyutkan sebatang kayu disungai itu, kemudian bertapalah diatasnya, hingga kamu sampai dilaut selatan" perintah ki Juru martini
"sendiko dawuh Ki"
Kemudian Senopati mengambil batang kayu yang cukup besar, batang itu ditariknya menuju bibir sungai, kemudian dengan hentakan tenaga, dihanyutkan kayu itu kesungai, dengan cepat senopati melompat ketas batang kayu itu, kemudian duduk bersila, lama-lama napasnya mulai teratur, dia sudah larut kedalam tapanya.
didalam pertapaannya yang ketika itu sudah sampai di tepi pantai selatan, senopati bertemu dengan Nyai Ratu Kidul, dalam pertemuan itu, Ratu Pantai Selatan itu bersedia membantu Senopati Dalam membangun Kerajaan Mataram di kota gede. akhirnya senopati diberi telur jagad, telur yang sangat besar. setelah itu senopati terbangun dari pertapaannya, dan segera pulang ke Kota Gede. diperjalanan Senopati bertemu dengan Sunan Kalijogo.
"apa yang kau bawa itu ngger senopati ?"  tanya Sunan kalijogo
"niki kanjeng sunan, saya diberi telur jagad oleh ratu pantai selatan, ini syarat supaya kerajaan saya bisa berjaya" jawab Senopati.
Sunan kalijogo sepertinya sudah dapat menduga, kalau Ratu Pantai Selatan hendak menarik Senopati menjadi pengikutnya, kemudian memerintahkan senopati untuk tidak memakannya
"jangan kamu makan telur itu" Perintahnya
"sendiko kanjeng sunan" jawab Senopati, karena bagaimanapun, Sunan Kalijogo adalah gurunya yang harus dipatuhi.
akhirnya telur itu diberikan kepada abdinya, yang setiap hari bertugas sebagai juru taman.
oleh Juru taman itu, telur dimakan, setelah habis, tubuh juru taman itu membesar, dari mulutnya keluar taring yang besar, matanya membesar dan berwarna merah, suaranya menggelegar.
karena akan menakuti orang jika raksasa itu tetap didalam keraton, makan oleh Senopati Raksasa itu diperintahkan untuk ke gunung Merapi, menjaga gunung merapi, dengan nama Kiai Sapu Jagad.


baca selengkapnya....

Cerita Asap Merapi (nyai Gandung Melati)

Bulan purnama membulat dengan indah di jurang porong, desai kecil di lereng tenggara merapi. Malam ini Purnama tampak sangat indah, membuat siapapun akan keluar rumah untuk menikmati keindahannya.
Sudah jamak ketika bulan purnama seperti malam ini, anak-anak akan bermain diluar rumah, dan biasanya mereka mencari rumah yang memiliki halaman luas.

Yo prokonco dolanan neng njobo
padang mbulan padange koyo rino
Rembulane seng ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore

Sudah terdengar lagu yang dinyanyikan teman-temannya ketika wisang baru saja sampai di halaman rumah Ki Jogoboyo. banyak anak-anak yang sudah berkumpul dirumah Ki Jogoboyo malam itu, bermacam-macam permainan dimainkan, ada yang bermain petak umpet, bentik, kejar-kejaran, yang biasanya dimainkan oleh anak laki-laki, anak-anak perempuan lebih banyak yang memilih untuk menari atau bernyanyi bersama, mereka menari gambyong, srimpi dan bernyanyi lagu-lagu dolanan seperti gambang suling, gundul-gundul pacul, mentok-mentok dan lain-lain.
orang-orang tua ditengah pendopo saling bercerita ditemani wedng jahe dan jagung godog, juga kacang godog.
dibawah pohon mangga, mbah sangelat, orang tua yang hobi bercerita, sedang di kerubungi beberapa anak, dia sedang asik bercerita, wisang yang memang senang mendengarkan cerita ikut bergabung dibawah pohon mangga itu.
"sini sang, tumben kamu terlambat keluar rumah" sapa mbah sangelat ketika melihat wisang menuju ke arahnya
"ia mbah, tadi membatu simbok mengisi jembangan dulu" jawab wisang.
"oo..ya sudah sini duduk sini, aku baru mau bercerita" kata mbah sangelat.
"nggeh mbah"  kata wisang
"aku akan bercerita tentang salah satu penguasa merapi, yaitu Nyai gandung Melati"
pada suatu masa, ada seorang dara cantik bernama Klabang Retno, dia tinggal di desa sebelah utara desa sukuh, dia tinggal disana bersama Ibunya yang bernama gandung Melati. Klabang Retno sangah menyukai tanaman bunga, di sekeliling rumahnya ditanami beraneka macam tanaman bunga, mulai dri melati, mawar , kenanga, sedap malam dan banyak lagi yang lain. 
pada suatu ketika, datang kemarau panjang, air mulai sulit didapat, sehingga tanaman Klabang Retno mulai layu, Klabang Retno jadi sedih, dan menangis setiap kali melihat tanamannya mati satu persatu. 
Melihat kesedihan putrinya, Nyai gandung Melati menjadi iba, diapun mencari cara bagaimana supaya taman putrinya bisa mendapatkan air, akhirnya Nyai gandung Melati membuat sayembara, barang siapa yang dapat mengairi taman putrinya, akan diambil menatu.
Berita sayembara itu terdengar sampai jauh, banyak pemuda-pemuda perkasa yang ingin mengambil Klabang Retno yang terkenal cantik itu untuk menjadi istrinya, tetapi para pemuda itu semua gagal karena sumber air memang tidak ada disekitar daerah tersebut. 
sayembara itu terdengar juga oleh Ki Ageng Sukuh, penguasa desa Sukuh. setelah mendengar banyak peserta sayembara yang gagal, rasa penasaran Ki Ageng Sukuh tergugah, akhirnya dia mengikuti sayembara tersebut. Ki Ageng sukuh mulai membuat saluran air dengan cara membuat terowongan air dari sukuh menuju utara, tempat tinggal nyai gandung Melati, tetapi setelah berhari-hari membuat saluran air, tiba-tiba didepan tampak jurang yang sangat dalam, mustahil untuk dilalui saluran airnya, akhirnya Ki Ageng Sukuh menghentikan pekerjaannya, kemudian dia bersemedi, mencara jalan keluar lain. dalam semedinya Ki Ageng Sukuh diberitahu bahwa ada sumber air di Watu Pawon. Akhirnya Ki Ageng Sukuh mencari letah watu pawon itu, ternyata letaknya dikelilingi oleh batu-batu besar yang untuk mengalirkan airnya, batu-batu itu harus ditatah untuk membuka aliran airnya, aliran air itu sekarang menjadi kali Sinatah. airpun mengalir hingga ke taman Klabang Retno.
Merasa berhasil memenangkan sayembara, Ki Ageng Sukuh menemui Nyai gandung Melati untuk menepati janjinya, yaitu menjodohkannya dengan Klabang Retno.
Nyai Gandung Melati merasa Klabang Retno tidak cocok dengan Ki Ageng Sukuh, anaknya yang cantik dan masih muda masak akan dijodohkan dengan orang yang sudah tua, yang layak menjadi kakeknya. Nyai gandung Melatipun tidak mau menjodohkan Ki Ageng Selo dengan Klabang Retno.
Karena Nyai Gandung Melati ingkar janji, maka Ki Ageng Sukuh menjadi marah, makan Nyai Gandung Melati dikenai aji gelap sayuto, dimana datang angin besar yang menyeret tubuh Nyai Gandung Melati hingga ke kawah Merapi, dan klabang retno di kutuk menjadi harimau putih, yang keluyuran dilereng-lereng merapi.
Nayi Gandung Melati terjatuh di kawah Merapai, kemudian mendirikan kerajaan jin di gunung Wutoh, dan menjadi penguasa disana, dan bertugas memelihara tanaman dan binatang-binatang di lereng merapi. sementara Macan putih jelmaan Klabang Retno, menjaga hutan hutan di lereng merapi agar tidak dijarah dan dirusak manusia.
Setiap merapi punya gawe (meletus) nyai gandung Melati akan menemui warga-warga lereng merapi melaui mimpi."

"sudah larut malah, sekarang kalian pulang, lagian ceritanya sudah habis" kata mbak sangelat
maka anak-anak pun bubar, dan pulang kerumah masing-masing.
baca selengkapnya....