cerita warga lereng gunung kapur
Jika anda berkunjung ke wilayah sale, rembang dari arah selatan (blora) anda akan memasuki wilayah hutan jati milik perhutani, anda akan membelah hutan yang masuk dalam wilayah KPH Kebonharjo. jalan itu adalah satu-satunya jalan yang menghubungkan daerah-daerah pinggiran hutan yang masuk wilayah blora dan daerah pinggiran yang masuk wilayah rembang, batasnya saya sendiripun tidak tau hehehehe...
wilayah yang masuk kewilayah blora antara lain sendang rejo dan bogo rejo yang mana ketika penduduk di dua desa itu akan berbelanja ke pasar tentu harus ke pasar tahunan wilayah rembang, karena pasar diwilayah blora jaraknya terlalu jauh, yaitu didaerah jepon, dan tentu saja harus melewati hutan yang lebat itu, yang mana pada tahun 80an masih banyak begalnya. Saat ini jalan satu-satunya itu sudah mulai ramai, karena sejak awal 90an, bukit-bukit kapur yang masuk wilayah kendeng utara sudah mulai banyak ditambang batu kapurnya, maka truk-truk pengangkut batu putih pun banyak yang berseliweran dihutan jati itu.
saat awal daerah itu ditambang banyak warga sekitar pegunungan kendeng yang protes, terutama yang dari wilayah sale, karena memang sumber air dari wilayah sale berasal dari daerah pegunungan kendeng, sumber semen tepatnya. tapi ditahun 90an, siapa yang berani protes dengan keras, kalau masih sayang keluarga, dan nyawa, melihat pemimpin negara yang sekarang banyak posternya dengan caption "penak jamanku tho..." itu. (penak ndasmu...).
tahun berganti, kali dibelakang rumah yang dulu mengalir deras, kini hanya menjadi kalen saja, dan berair deras hanya disaat hujan. apa iya nanti kami yang dulu tertawa melihat iklan "sekarang sumber air so dekat" akan mengalami hal itu. (kuwalat ini namanya).
sekarang jumlah perusahaan yang mengambil batu kapur dikendeng utara makin banyak, makin mengkawatirkan saja keadaan di puncak kendeng itu, kalau sempat kesana, makan anda hanya akan melihat puncak pegunungan itu hanya putih saja sejauh mata memandang (lebai....) itu bukan putih salju, bukan...karena ini bukan puncak jaya, ini adalah putih batu kapur. jadi sudah tidak ada lagi cerita pegunungan yang hijau, sawah ladang membentang, yang ada ya itu....batu putih membentang, dan truk yang menyemut. maka saat ini sebenarnya diperlukan penyadaran kepada masyarakat...eh salah...masyarakat sudah sadar sejak dulu, perlu penydaran kepada penguasa supaya jangan serakah, sampai gunung pun dimakan, karena kalau pengunungan kendeng sudah menjadi dataran kendeng, maka saat itulah kita akan berkata "sekarang sumber air dimana?" dan itu sudah terlambat, sangat sangat terlambat.
SALE ora DI DOL
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar