multimedia SMK

gundukan tanah yang mewangi

wajah sendu itu makin muram ketika mentri mulai terbenam, tapi lelaki itu masih saja berdiri disanadi tempat pemakaman umum, didepan sebuah gundukan tanah yang masih basah dan masih wangi dengan tebaran bunga-bunga.
air matanya tak terasa mulai jatuh membasahi pipinya menuju gundukan tanah yang masih basah itu,teringat apa yang pernah dia ucapkan. "aku akan menjadi orang yang dapat membahagiakanmu". begitu dia katakan dengan lantang ketika itu. ketika penghuni gundukan itu bertanya "mau jadi apa kau kelak..?"
dua tahun berlalu setelah pertemuan itu, memang beberapa kali mereka bertemu, tetapi tidak pernah terjadi pembicaran serius seperti itu lagi.semalam, yach..baru semalam dia bicara. dengan pertanyaan yang sama :mau jadi apa kau kelak..?"laki-laki itu hanya terdiam saat itu, akrena dia tau, dia tidak bisa menjawab dengan jawaban yang sama. dia tidak mungkin membahagiakannya lagi.karena laki-laki itu tahu bahwa saatnya sudah dekat. malaikat maut sudah siap menjeput, tetapi laki-laki itu belum dapat memebuatnya bahagia.hingga akhirnya pertanyaan itu tidak pernah terjawab sampai ia tidur dalam gundukan tanah.
seorang muda dengan paras yang cerah mendekati laki-laki yang masih terdiam sendiri itu. kemudia bertanya "sedang apa kau disini, tidak ada gunanya kau disini sekarang?""aku sedang memikirkan bagaimana membuat orang dalam gundukan ini bahagia" jawab laki-laki itu lirih."kau bisa membuat dia bahagia hanya dengan satu jalan" kata sang pemuda"jadi masih bisa aku membahagiakan dia??" jawab laki-laki itu dengan cepat dan penuh tanya."bisa.." jawab pemuda itu" dengan do'a....hanya dengan do'a kitalah kita dapat membahagiakan orang-orang yang tinggal didalam gundukan-gundukan ini" sambil menujuk seeret kuburan."jiak mereka disiksa, mereka akan diringankan oleh do'a kita, jiak mereka mendapat nikmat mereka, akan ditambah nikmatnya" jawab pemuda itu menerangkan.
kemudian laki-laki itu pun pulang dengan perasaan tenang karena, dia masih punya waktu untuk membuat orang yang didalam gundukan itu bahagia.

0 komentar:

Posting Komentar